Dari Kutai Timur untuk Indonesia: PRIMABACA, Tumbuh, Bergerak, dan Menginspirasi
Oleh: Misnawati, S.I.Pust.
Saya, Misnawati, adalah pustakawan di PRIMABACA, perpustakaan pusat Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara (YPPSB) di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Daerah ini dikenal kaya akan sumber daya alam, khususnya batubara, dengan kehadiran industri besar yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun di balik kemajuan tersebut, Kutai Timur masih menghadapi tantangan serius dalam bidang literasi.
Berdasarkan data pembangunan literasi tahun 2025, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kutai Timur berada pada angka 57,87, masih di bawah rata-rata Provinsi Kalimantan Timur yang mencapai 68,77. Angka ini menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi, tetapi juga dari kualitas pengetahuan, budaya baca, dan daya kritis masyarakatnya.
Di banyak sekolah, perpustakaan masih sering dipandang sebagai ruang sunyi yang dipenuhi rak buku. Siswa datang hanya ketika mendapat tugas atau sekadar meminjam buku pelajaran. Tidak sedikit perpustakaan yang belum benar-benar menjadi bagian hidup dari ekosistem pembelajaran. Padahal, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, perpustakaan memiliki potensi besar menjadi pusat tumbuhnya literasi, kreativitas, kolaborasi, dan pembentukan karakter.
PRIMABACA telah berkembang sejak tahun 1991. Berawal dari perpustakaan sekolah sederhana, PRIMABACA kini tumbuh menjadi pusat literasi yang inklusif, kreatif, dan inovatif. Transformasi ini lahir dari kebutuhan nyata untuk menjawab rendahnya minat baca dan keterbatasan akses literasi di Kutai Timur.
Sebagai pustakawan di lingkungan YPPSB yang menaungi tujuh satuan pendidikan mulai dari daycare, taman kanak-kanak, tiga sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas—saya memahami bahwa peran pustakawan tidak lagi sekadar melayani peminjaman buku. Perpustakaan harus menjadi ruang hidup yang relevan dengan kebutuhan zaman.
PRIMABACA hadir bukan hanya sebagai nama perpustakaan, tetapi sebagai gerakan literasi. Kami percaya bahwa membangun budaya baca tidak bisa dilakukan sendiri. Literasi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PRIMABACA terus berinovasi menghadirkan berbagai program unggulan. Ruang perpustakaan ditata menjadi lebih ramah, nyaman, dan inspiratif. Karya siswa dipajang sebagai bentuk apresiasi, sementara koleksi diperkuat dengan buku-buku populer, pengembangan diri, cerita inspiratif, buku visual, literatur lokal, hingga buku multibahasa.
Lebih dari itu, PRIMABACA mengembangkan berbagai program literasi yang dinamis, seperti:
Melalui program Tumbuh Kembang Bersama, PRIMABACA tidak hanya berbagi buku, tetapi juga pelatihan kepustakawanan, pendampingan sistem pengelolaan perpustakaan, hingga penguatan jaringan literasi antar sekolah dan komunitas.
Dampak dari gerakan ini mulai terlihat secara nyata. Kunjungan perpustakaan meningkat signifikan, begitu pula peminjaman buku. Pengguna aktif layanan Smart Library terus bertambah, menunjukkan bahwa literasi digital mulai diterima dengan baik oleh masyarakat sekolah.
Lebih dari 30 perpustakaan mitra telah menerima manfaat langsung berupa hibah buku, pelatihan DDC, SLiMS, dan webinar literasi. Jaringan literasi pun terbentuk lebih kuat melalui pendampingan berkelanjutan. PRIMABACA juga menjadi rujukan penelitian, tempat belajar, dan pusat inovasi literasi di Kutai Timur.
Koleksi buku diperbarui secara rutin setiap tiga bulan, mencakup koleksi lokal, nasional, internasional, arsip, serta hasil kerja sama dengan berbagai pihak. Program Liburan Cerdas Ceria menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati karena menghadirkan pengalaman literasi yang menyenangkan, kreatif, dan edukatif.
Yang paling membahagiakan adalah perubahan perilaku membaca siswa. Anak-anak yang sebelumnya enggan membaca kini datang dengan sukarela. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga berdiskusi, menulis, membuat resensi, hingga berani tampil di depan umum. Guru pun mulai menjadikan perpustakaan sebagai mitra pembelajaran, bukan sekadar pelengkap.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa pendidikan bermutu tidak hanya lahir dari ruang kelas. Pendidikan tumbuh ketika semua pihak merasa memiliki tanggung jawab yang sama: guru menginspirasi, pustakawan menggerakkan, siswa berpartisipasi aktif, orang tua mendukung, dan sekolah memberi ruang untuk tumbuh.
PRIMABACA telah menjadi lebih dari sekadar perpustakaan. Ia tumbuh menjadi ruang kolaborasi, ruang kreativitas, dan ruang tumbuhnya ide-ide baru. Keberhasilannya juga diakui melalui berbagai pencapaian seperti akreditasi A, sertifikasi ISO 9001:2015, serta menjadi perpustakaan percontohan di Kutai Timur.
Sebagai pustakawan, saya percaya bahwa perpustakaan adalah jantung sekolah. Jika jantung itu hidup, maka seluruh ekosistem pembelajaran akan bergerak dengan baik. Tantangan tentu masih ada, mulai dari keterbatasan sumber daya, perubahan minat baca generasi digital, hingga kebutuhan inovasi yang terus berkembang.
Namun satu hal yang kami yakini: perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dari Kutai Timur, kami belajar bahwa perpustakaan tidak hanya menyimpan buku. Perpustakaan menyimpan harapan, menumbuhkan karakter, dan membuka masa depan. Dan meskipun kami tumbuh jauh dari pusat kota, dari sinilah PRIMABACA tumbuh, bergerak, dan menginspirasi Indonesia.